always learning and always trying

Hanzhalah bin Abu Amir : Ku Tinggalkan Bulan Madu, Tuk Meraih Syahid

Share on :
Hanzhalah bin Abu Amir, adalah anak pemimpin suku Aus yang terbilang kaya di Yastrib (Madinah), ayahnya Abu Amir bin Shaifi adalah orang yang sangat benci kepada Islam, yang  pada zaman Jahiliyah dia mendapat julukan Abu Amir sang pendeta, tapi julukan itu berubah menjadi Abu Amir lelaki fasik setelah Islam menguasai Yastrib (Madinah).

Dan ketika cahaya Islam telah diraihnya ia pun menikah dengan Jamillah binti Abdullah bin Ubay bin Salul anak sahabat bapaknya yang dikenal sebagai tokoh munafik. Ia adalah pemuda sederhana yang tumbuh menjadi sosok yang tidak pernah ‘minder’ dan gampang putus asa, ia tidak merasa gentar kala harus membela kebenaran Islam yang dibawa Muhammad, walaupun ia harus berhadapan dengan bapaknya sendiri.


Rasa Takut Hanzholah ra Terhadap Sifat Munafik

Hanzhalah r.a bercerita, “Suatu hari kami menghadiri Majelis Rasulullah Saw. beliau memberikan nasihat kepada kami, nasihat itu membuat hati kami lembut sehingga kami menangis mencucurkan air mata, seolah-olah kami melihat surga dan neraka seperti yang diceritakan oleh Beliau. Sepulangnya dari Majelis Rasulullah Saw saya kembali ke rumah menemui anak isteri saya. Lalu bercanda dengan anak-anak dan bercumbu dengan isteri saya, kemudian kami mulai membicarakan masalah keduniaan. Suasana di rumah beda sekali dengan suasana di majelis Majelis Rasulullah Saw jika tadi saya merasa takut, tapi kini saya merasa gembira. Tiba-tiba saya berkata dalam hati, “Hanzhalah, engkau kini telah menjadi munafik. Nyatanya, keadaanmu ketika berada dihadapan Rasulullah Saw jauh berbeda dengan keadaan sekarang ketika kamu berada di rumah. “

Saya merasa sangat sedih dan kecewa terhadap diri saya. Saya pun keluar rumah dan berkata, “Hanzhalah telah menjadi munafik.“ Ketika saya bertemu dengan Abu bakar, saya terus berkata demikian. Abu Bakar berkata, “Subhanallah! Apa yang engkau katakan?. Sekali-kali Hanzhalah bukanlah seorang munafik . “

Saya berkata, “ketika kita mendengar nasihat Nabi tadi, saya merasa surga dan neraka betul-betul di depan kita. Tetapi ketika pulang bertemu dengan keluarga, kita melupakan kampung akhirat. “Abu Bakar r.a berkata “Ya, keadaan saya juga demikian. “Kemudian kami berdua menghadap Rasulullah Saw."

Saya berkata, “Ya, Rasulullah, saya telah menjadi orang munafik. ”Nabi Saw bertanya. “Apa yang telah terjadi?” Saya berkata, “Ya, Rasulullah, jika kami berada di majelismu dan engkau menceritakan tentang surga dan neraka kepada kami, kami merasa takut. Tetapi jika kami kembali ke rumah menjumpai anak isteri kami, bercanda  dan bermain bersama mereka, kami melupakan surga dan neraka.“
Mendengar penjelasan saya, Nabi Saw  bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan–Nya, jika setiap saat keadaanmu seperti ketika berada di dekat saya, niscaya para malaikat akan turun mengucapkan salam kepadamu ditempat tidurmu dan ketika kamu sedang berjalan. Tetapi wahai Hanzhalah, keadaan ini seperti ini jarang terjadi. “

Tak kalah masa keindahan itu tiba selepas melangsungkan pernikahan dengan wanita yang dicintainya, malam pertama sebagai bulan madu dilewati dengan penuh rasa kebahagiaan belum lagi menuntaskan rasa kebahagiaan itu tiba- tiba sayup terdengar dari jauh suara panggilan jihad yang semakin lama mendekat dan menggetarkan hati beliau, dan seruan jihad itu makin lama makin terngiang di telinganya dan tanpa pikir panjang lagi ia pun bergegas mengambil pedangnya yang memang telah dipersiapkan dan ia pun menuju medan pertempuran di Bukit Uhud tanpa menghiraukan lagi bulan madunya bersama istri yang ada dibenaknya adalah surga sudah menantinya.

Di daerah peperangan Uhud kaum muslimin mempertaruhkan nyawa, mempertahankan muru’ah, kemuliaan dan ketinggian Islam, berjihad dengan keberanian dan patriotisme yang tinggi menghadapi pasukan kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sofyan, begitu juga yang dilakukan Hanzhalah, ia mencabut pedangnya lalu merangsak masuk ke tengah-tengah musuh melibas siapa yang mendekatinya tak kenal ampun, melayangkan pedangnya satu demi satu musuhnya terluka bersimbah darah karena tebasan pedangnya.

Kepiawaianya bertarung di medan laga telah terbukti dia merangsak masuk ke tengah-tengah pengawal Abu Sofyan dan langsung berhadapan dengan pemimpin kafir itu bahkan nyaris saja dapat membunuhnya kalau saja dia tidak berteriak minta tolong kepada pasukan kafir Quraisy kemudian teriakan itu didengar oleh Syadad bin Al Aswad yang langsung menikam Hanzhalah dari belakang dengan pedang yang kemudian disusul oleh pasukan Quraisy lainnya dengan menikam dan menombak yang mengakibatkan Hanzhalah jatuh tersungkur dengan bermandikan darah.

Seusai peperangan Abu Amir dan Abu Sofyan mengitari dan mencari data-data kaum muslimin yang terbunuh dalam perang tersebut, ditemukan pula jasad Khariyah bin Abu Suhair pemimpin dari Bani Khazraj dan juga Abbas bin Ubadah bin Fadhlah serta Zakwan bin Abu Qaies bangsawan Yastrib dan juga tentunya mereka menemukan jasad Hanzhalah, yang selanjutnya mereka meneruskan dengan mencincang  dan merusak mayat-mayat tersebut sebagai pengukapan balas dendam mereka terhadap keluarganya yang terbunuh dalam perang Badar dua tahun lalu.

Ayahnyapun kemudian berkata,”Wahai anakku kenapa kamu tidak mengikuti perintahku untuk tidak ikut berperang, ucap Abu Amir dengan penuh kesedihan ”andai kamu mentaati perintahku pasti kamu akan hidup terhormat bersama kaum Aus,’’. Dan Abu Amir memohon kepada orang Quraisy untuk tidak mencincang anaknya, sementara ia sendiri telah mencincang jasad kaum muslimin.

Setelah itu para sahabat menyisir  dan menemukan satu persatu jasad kaum muslimin diantaranya adalah jasad Hamzah bin Abi Thalib yang telah rusak jantungnya tidak ada lagi kemudian juga jasad Hanzhalah yang masih utuh kelihatan segar dan terdapat  air yang menempel di sekujur tubuhnya seperti bekas mandi. Kemudian hal itu disampaikan kepada nabi Muhammad dan Beliau pun mendo’akan sembari melihat ke langit dan berkata kepada para sahabat, ’’Aku melihat malaikat-malaikat sedang memandikan Hanzhalah bin Abu Amir diantara langit dan bumi dengan mempergunakan air Muzn (mendung) yang diambil dari bejana perak.’’

Beliau pun mengutus salah seorang sahabat untuk  mengabarkan kepada istri nya Jamilah binti Abdullah Bin Salul dan menanyakannya apa yang dilakukan Hanzhalah sebelum pergi berperang, istrinya mengatakan,’’ketika mendengar seruan jihad dan sebelum pergi berperang Hanzhalah masih dalam keadaan Junub (janabat) dan belum sempat mandi katanya,”

Berbahagialah Hanzhalah sebagai syuhada yang dimandikan oleh malaikat dia memperoleh kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah, itulah sebaik baik tempat dan balasan yang tidak semua orang bisa untuk mencapainya.

suara-islam.com

0 komentar on Hanzhalah bin Abu Amir : Ku Tinggalkan Bulan Madu, Tuk Meraih Syahid :

Post a Comment and Don't Spam!

terima kasih atas kunjungan anda...

 

VISITOR

Free counters!