always learning and always trying

Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

( MUHASABAH ) KEBAHAGIAAN YANG KITA KEJAR

Sebagian orang mengejar kebahagiaan pada diri wanita cantik. Dia menyangka setelah mengawini seorang wanita cantik, maka dia akan bahagia. Tapi, tak lama kemudian, bahtera rumah tangganya kandas. Di depan sorot kamera, tampak mempelai begitu bahagia, bersanding wanita cantik. Namun, kecantikan sering menjadi fitnah dan kemudian membawa bencana. Pujian yang bertabur dari umat manusia tak membuatnya bahagia. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sebab, kekuasaan memang sebuah kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak. Tapi, betapa banyak manusia yang justru hidup merana dalam kegemilangan kekuasaan. Dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan, setelah kuasa di tangan. Sebelum memegang kuasa, senyuman sering menghiasai bibirnya. Namun, setelah kuasa di dalam genggaman, kesulitan dan keresahan justru menerpanya, tanpa henti.

Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan!
Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan!
Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan!
Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran!
Dan sangkaan-sangkaan lain...

Selama ribuan tahun, para ahli pikir, telah sibuk membincang tentang kebahagiaan. Kamus The Oxford English Dictionary (1963) mendefinisikan ”happiness” sebagai: ”Good fortune or luck in life or in particular affair; success, prosperity.” Jadi, dalam pandangan ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersifat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka, menurut pandangan ini, tidak ada kebahagiaan yang abadi, yang tetap dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia.

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ”ma’rifatullah”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:

”..Seorang hamba rakyat akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan wazir; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan raja. Tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegem.biraan, lebih dari apa yang dapat dikira-kirakan oleh manusia, sebab tidak ada yang maujud ini yang lebih dari kemuliaan Allah... Oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.”

Ma’rifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan, bahwa ”Tiada Tuhan selain Allah” (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ”ayat-ayat-Nya”, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri. Alam semesta ini adalah ”ayat”, tanda-tanda, untuk mengenal Sang Khaliq. Maka, celakalah orang yang tidak mau berpikir tentang alam semesta.

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacam itu; hidup dalam keyakinan; mulai dengan mengenal Allah dan ridha menerima keputusan-keputusan-Nya, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita ingin, bahwa kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Mudah-mudahan, Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin
 
 
sember:  Yusuf Mansur Network

BERDOSA DAN GAK BERIMAN, KOK MALAH KAYA..?

Banyak Kita yang heran melihat orang yang bergelimang dalam kemaksiatan kepada Allah malah dibukakan pintu rezeki seluas-luasnya serta dimudahkan segala urusan hidupnya. Boleh jadi Allah memberikan kekayaan dalam rangka istidroj, yaitu agar semakin membuat seseorang terlena dalam maksiat dan kekufuran. Artinya disebabkan maksiat atau kesyirikan yang ia perbuat, Allah beri ia kekayaan, akhirnya ia pun semakin larut dalam kekayaan tersebut dan membuat ia semakin kufur pada Allah. Ia memang pantas diberi kekayaan, namun karena ia adalah orang yang durhaka. Kekayaan ini diberikan hanya untuk membuat ia semakin terlena dan bukan karena dirinya mulia

Allah SWT Berfirman artinya:
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua PINTU-PINTU KESENANGAN untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami SIKSA mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al Anam : 44)

Allah SWT Berfirman artinya:
Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai KEMEWAHAN dan beri tangguhlah ( Ditunda ) mereka barang sebentar. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan NERAKA yang menyala-nyala. (Al Muzammil : 11-12)

Terkadang didalam dakwah, karena seruan materialisme menyebar kemana-mana, seruan Ulama dan Saudara seiman seringkali dilihat dari kedudukan, nama dan kekayaan bukan isi seruannya, dan sebaliknya seorang muslim atau para penyeru Agama Allah tidak jarang yang merasa rikuh menyampaikan bagian yang pahit didalam Al Qur'an dan Sunnah, bila dakwah mereka kepada para pembesar dan pemilik harta banyak, benarlah firman Allah SWT.

Allah SWT Berfirman artinya:
Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan KEKAYAAN atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu. (Huud : 12)

Ini dikuatkan dari pelajaran sejarah para Nabi-Nabi, dimana tidak ada diantara mereka yang lebih kuat, lebih kaya, lebih terkenal dari pada raja-raja dan pembesar semisal Fir'aun, Pembesar Quraisy Abu Jahal, Abu Lahab, Raja Namrudz, waspada dengan tipuan dan bisikan syetan yang menyerang ilmu yang menuntun hidayah teramat dahsyat, karena sedikitnya mereka yang kritis dengan ilmu agama Allah ini dan merasa benar karena kedudukannya.

Dalam Islam kesabaran dan ketaatan sangat terkait, bila kita memiliki harta kekayaan, kita disuruh taat bersedekah dan bersabar dengan mengeluarkan harta, terlebih mereka yang memberikan sedekah terbaik, begitupun dalam shalat kita disuruh sabar dari bisikan kemalasan, begitupula ibadah-ibadah lainnya yang ada didalam Quran dan Sunnah. Janganlah memilah dan memilih padahal ia surat dinas kita sebagai manusia menjadi khalifah dimuka bumi ini.

Imam Ahmad mengatakan, Sabar disebutkan di dalam Al-Quran sebanyak lebih dari 70 ayat. Kaitan sabar dan iman seperti halnya kedudukan kepala dan jasad. Seseorang yang tidak sabar dalam melaksaknakan ketaatan, dalam menjauhi kemaksiatan serta ketika tertimpa musibah maka ia sudah kehilangan sebagian besar dari imannya.(Kitab At-Tamhid: 391).

Tokoh Tabi’in: Raja’ bin Haiwah

Tiga ulama di masa tabi’in yang tidak ada bandingannya dan tidak ada yang menyamainya. Seakan mereka bertemu dan bersepakat untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Berjanji setia untuk selalu berada di atas kebaikan dan kebajikan, meniti hidupnya di atas takwa dan ilmu, bertekad bulat untuk berkhidmat kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga kaum muslimin. Mereka itu adalah Muhammad bin Sirin dari Irak, al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr dari Hijaz dan Raja’ bin Haiwah dari Syam.

Marilah kita telusuri perjalanan saat-saat penuh berkah dalam sejarah orang yang ketiga ini, yakni Raja’ bin Haiwah.

Raja’ bin Haiwah lahir di Bisaan Palestina, kira-kira di akhir masa khilafah Utsman bin Affan radhiyallahu a’nhu. Asal-usulnya dari kabilah Kindah Arab. Sehingga Raja’ adalah orang palestina dari keturunan Arab dan keluarga Bani Kindah. Beliau tumbuh dalam ketaatan kepada Allah sejak kecil, dicintai Allah dan menyenangkan hati hamba-hamba-Nya.

Beliau gemar mencari ilmu sejak awal pertumbuhannya, dan ilmu pun serasa cocok bersemayam di hatinya yang subur dan mengisi celah-celahnya yang masih kosong. Semangatnya yang paling besar adalah ketika mempelajari dan mendalami Kitabullah, serta membekali diri dengan hadis-hadis Nabi. Pikirannya diterangi oleh cahaya Alquran, pandangannya disinari oleh hidayah nubuwah, dan dadanya penuh dengan nasihat dan hikmah. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh berarti telah diberi karunia yang banyak.

Beruntung beliau mendapat kesempatan untuk menimba ilmu dari para sahabat seperti Abu Sa’id al-Khudri, Abu Darda, Abu Umamah, Ubadah bin Shamit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abdullah bin Amru bin Ash, Nawwas bin Sam’an dan lain-lain. Mereka semua menjadi lentera hidayah dan cahaya pengetahuan bagi beliau.

Pemuda ini menetapkan kedisiplinan atas dirinya sendiri. Motto yang dipelihara dan diulang-ulang sepanjang hayatnya adalah:

    Betapa indahnya Islam bila berhiaskan iman

    Betapa indahnya iman bila berhiaskan takwa

    Betapa indahnya takwa bila berhiaskan ilmu

    Betapa indahnya ilmu bila berhiaskan amal

    Betapa indahnya amal bila berhiaskan kasih sayang

Raja’ bin Haiwah menjadi menteri dalam beberapa periode khalifah Bani Umayah. Dimulai sejak khalifah Abdul Malik bin Marwan hingga masa Umar bin Abdul Aziz. Hanya saja, hubungannya dengan Sulaiman bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz lebih istimewa daripada khalifah-khalifah yang lain.

Beliau mendapat tempat di hati khalifah-khalifah Bani Umayah ini karena kecerdasan akalnya, kebagusan bahasanya, ketulusan niatnya, serta kebijakannya dalam menyelesaikan suatu masalah. Di samping itu, juga karena kezuhudannya terhadap kemewahan dunia yang ada di tangan para penguasa itu, yang biasanya diperebutkan oleh orang-orang yang tamak.

Kedekatan hubungannya dengan khalifah-khalifah Bani Umayah merupakan perwujudan rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi mereka, karena beliau senantiasa mendorong mereka kepada kebaikan dan menunjukkan jalannya, menjauhkan dari kejahatan dan menutup pintunya, menunjukkan indahnya kebenaran hingga mereka mau mengikuti, dan menggambarkan betapa buruknya kebathilan hingga mereka menjauhi. Beliau menunaikan nasihat bagi Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin.

Telah terjadi peristiwa yang dialami Raja’ bin Haiwah sehingga mampu menerangi jalan agar beliau menempuh jalan yang benar dalam bergaul dengan khalifah dan bagaimana dia membatasi diri dalam tugasnya. Beliau menceritakan perihal dirinya sebagai berikut:

“Ketika itu, aku berdiri bersama khalifah Sulaiman bin Abdul Malik di tengah ramainya manusia. Tiba-tiba aku lihat seseorang keluar dari kerumunan massa dan berjalan mendekati kami. Wajahnya tampan dan penuh wibawa, menerobos kerumunan orang sehingga aku merasa pasti dia hendak menghampiri khalifah. Tetapi ternyata dia berdiri di sampingku, memberi salam lalu berkata:

“Wahai Raja’, engkau telah diuji melalui orang ini [sambil menunjuk khalifah]. Kedekatanmu denganya bisa mendatangkan kebaikan yang banyak, namun bisa pula menimbulkan keburukan yang banyak. Maka jadikanlah kedekatanmu dengannya sebagai sarana untuk mendapatkan kebaikan bagi dirimu dan orang lain. Ketahuilah wahai Raja’, bila seseorang memiliki kedudukan di sisi pengauasa kemudian dia mengurus kebutuhan orang-orang lemah yang tak kuasa mengajukannya kepada penguasa, maka dia akan menjumpai Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat nanti dengan kedua kaki yang mantap untuk dihisab.

Ketahuilah wahai Raja’, barangsiapa yang mencukupi kebutuhan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Ketahuilah pula wahai Raja’, bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah menyenangkan hati seorang muslim.”

Raja’ berkata, “Ketika aku sedang asyik memperhatikan dengan seksama kata-kata orang itu dan menunggu kelanjutannya, namun tiba-tiba khalifah memanggil: “Wahai Raja’ bin Haiwah!” Aku bergegas menuju ke tempat khalifah seraya menjawab, “Aku di sisimu wahai Amirul Mukminin.”

Khalifah menanyakan sesuatu dan aku menjawab. Setelah itu aku segera menengok ke arah orang yang menasihatiku tadi, namun ia sudah tak lagi berada di tempatnya. Aku mencarinya di antara kerumunan orang ramai, namun aku tak mendapatkannya.”

Raja’ bin Haiwah banyak membimbing ke arah sikap jujur khalifah-khalifah Bani Umayah hingga tertulis dalam lembaran sejarah yang paling indah, diriwayatkan dari generasi ke generasi sebagai tokoh salaf.

Sebagai contohnya, peristiwa di mana suatu hari ada orang yang mengadu kepada khalifah Abdul Malik bin Marwan tentang adanya seseorang yang membenci Bani Umayyah dan berpihak kepada Abdullah bin Zubair. Si pelapor menceritakan tentang perkataan dan perbuatan orang yang dimaksud, hingga memancing amarah khalifah dan mengancam: “Demi Allah, jika Allah memberiku kesempatan untuk menangkapnya, sungguh aku akan melakukannya, aku akan melakukannya, akan aku kalungkan pedang di lehernya!”

Tak berselang lama setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan khalifah dapat menangkap orang yang diadukan tersebut. Dia digiring menghadap khalifah dengan cara yang kasar. Ketika melihat orang itu, khalifah naik pitam dan hampir melaksanakan ancamannya, namun Raja’ bin Haiwah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi Anda kesempatan untuk melaksanakan keinginan Anda dengan kekuatan yang Anda miliki, maka sekarang lakukanlah untuk Allah apa yang disukai-Nya, yaitu ampunan.”

Seketika itu juga amarah Amirul Mukminin menjadi reda dan menjadi tenanglah hatinya. Kemudian dia memaafkan orang tersebut, melepaskannya dan memperlakukannya secara baik.

Pada tahun 91 H, Khalifah al-Walid bin Abdul Malik menunaikan haji didampingi oleh Raja’ bin Haiwah. Sesampainya di Madinah, khalifah mengunjungi masjid Nabawi asy-Syarif disertai Umar bin Abdul Aziz. Beliau ingin melihat-lihat masjid Nabawi itu karena telah memiliki tekad untuk memperluasnya menjadi 200 hasta. Orang-orang yang berada di dalamnya diminta keluar dari masjid agar Amirul mukminin dapat memperkirannya.

Tidak tersisa lagi orang yang di dalamnya kecuali Sa’id bin Musayyab, karena petugas tidak berani menyuruhnya keluar. Melihat hal itu, Umar bin Abdul Aziz, sebagai wali kota mengutus seseorang untuk mengatakan kepada Sa’id agar keluar seperti yang lain. Tetapi Sa’id menjawab, “Saya tidak akan meninggalkan masjid kecuali pada waktu-waktu yang biasa saya tinggalkan setiap hari.” Lalu dikatakan, “Kalau begitu hendaknya Anda berdiri sekedar memberi hormat dan salam kepada Amirul Mukminin..” Beliau menjawab, “Saya datang kemari untuk berdiri bagi Rabb-ul Alamin.”

Demi melihat polemik yang terjadi antara utusannya dengan Imam Sa’id bin Musayyab, Umar bin Abdul Aziz segera mengarahkan Amirul Mukminin menjauh dari tempat Sa’id duduk. Sementara Raja’ mengalihkan perhatiannya dengan mengajak berbincang-bincang, sebab Umar dan Raja’ tahu akan kekerasan sikap khalifah. Mendadak al-Walid bertanya, “Siapakah orang tua tersebut? Bukankah dia Sa’id bin Musayyab?”

Keduanya berkata, “Benar wahai Amirul Mukminin,” lalu keduanya segera menyebut-nyebut tentang kebaikan agama dan ilmunya serta keutamaan dan ketakwaannya. Keduanya berkata, “Seandainya beliau mengetahui posisi Anda, tentulah akan datang dan memberi salam, hanya saja beliau sudah lemah penglihatannya.” Al-Walid berkata, “Aku baru mengetahui bahwa keadaannya seperti yang kalian sebutkan. Dia lebih berhak untuk kita datangi dan kita dahului mengucapkan salam.”

Khalifah al-Walid mengelilingi masjid hingga sampai di tempat duduk Sa’id bin Musayyab, beliau berhenti memberi salam dan bertanya: “Bagaimana keadaan Anda, wahai syaikh?” Sa’id menjawab tanpa beranjak dari tempatnya, “Dalam limpahan nikmat-Nya, segala puji bagi Allah, bagaimana keadaan Amirul Mukminin? Semoga mendapat taufik untuk mengerjakan apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah.”

Sambil berlalu al-Walid berkata, “Beliau adalah sisa-sisa orang terdahulu, sisa pendahulu umat ini.”

Ketika tampuk kekhalifahan jatuh ke tangan Sulaiman bin Abdul Malik, Raja’ bin Haiwah mendapat kepercayaan penuh di sisinya melebihi yang lain. Sulaiman sangat mempercayainya, menggunakan pemikiran dan pandangan-pandangannya dalam segala urusan yang besar maupun yang kecil.

Begitu banyak peristiwa mengesankan yang beliau alami bersama Sulaiman bin Abdul Malik. Namun ada satu peristiwa monumental bagi sejarah Islam dan kaum muslimin, karena masalahnya yang sangat urgen. Yakni soal pengganti khalifah, di mana Raja’ cenderung untuk memilih Umar bin Abdul Aziz.

Raja’ bin Haiwah menceritakan peristiwa bersejarah tersebut:

Di awal hari Jumat di bulan Safar tahun 99 H, aku mendampingi Amirul Mukminin Sulaiman di Dabik. Saat itu Amirul Mukminin telah mengirimkan suatu pasukan yang kuat untuk menggempur Turki di bawah komandan saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, dan didampingi putra beliau Dawud, beserta sebagian besar dari keluarganya. Beliau telah bertekad untuk tidak meninggalkan Dabik sebelum menguasai Konstantinopel atau mati.

Ketika waktu telah mendekati shalat Jumat, Amirul Mukminin berwudhu dengan sebagus-bagus wudhu, memakai jubah berwarna hijau dan surbannya berwarna hijau pula. Beliau merasa bangga melihat keadaannya di cermin yang terlihat masih muda, di mana saat itu usia khalifah baru sekitar 40 tahun. Kemudian beliau keluar untuk menunaikan shalat Jumat bersama orang-orang. Sepulangnya dari shalat Jumat, tiba-tiba beliau merasa demam. Rasa sakit tersebut kian hari bertambah parah. Sehingga beliau meminta agar aku (Raja’) senantiasa dekat di samping beliau.

Suatu kali, ketika aku masuk ke ruangan khalifah, aku dapati Amirul Mukminin sedang menulis sesuatu. Aku bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab, “Aku menulis wasiat untuk penggantiku yakni putraku Ayyub.”

Aku berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ketahuilah bahwa yang akan menyelamatkan Anda dari tanggung jawab kelak di hadapan Allah adalah dengan menunjuk seorang pengganti yang shalih untuk umat ini. Sedangkan putra Anda itu masih terlampau kecil, belum dewasa, belum dapat dijamin kebaikan dan keburukannya.” Beliau berkata, “Ini hanya tulisan main-main saja. Untuk itu, aku hendak shalat istikharah dahulu.” Kemudian beliau merobek tulisan tersebut.

Setelah satu atau dua hari kemudian aku dipanggil dan ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang putraku, Dawud wahai Abu Miqdam?” Aku berkata, “Dia tidak ada di sini. Dia sedang berada di medan perang di Konstantinopel bersama kaum muslimin dan Anda sendiri tidak mengetahui apakah dia masih hidup atau sudah gugur.” Beliau berkata, “Menurutmu, siapakah gerangan yang pantas menggantikan aku wahai Raja’?”

Aku berkata, “Keputusannya terserah Anda wahai Amirul Mukminin..” Aku ingin melihat siapa saja yang beliau sebut, sehingga aku bisa mengomentarinya satu persatu, lalu sampailah nama Umar bin Abdul Aziz yang sebenarnya aku maksud.” Beliau berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang Umar bin Abdul Aziz?”

Aku berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang beliau melainkan bahwa dia adalah orang yang utama, sempurna, cerdas, bagus agamanya, dan berwibawa.” Beliau berkata, “Engkau benar, demi Allah, dialah yang layak untuk jabatan ini. Hanya saja jika dia yang aku angkat sementara aku tinggalkan anak-anak Abdul Malik, tentu akan terjadi fitnah.” Aku berkata, “Kalau begitu, pilihlah salah satu dari mereka dan tetapkan baginya sebagai pengganti setelah Umar.”

Beliau berkata, “Anda benar, hal itu bisa membuat mereka tenang dan ridha.” Kemudian Amirul Mukminin mengambil kertas dan beliau tulis:

“Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah surat dari hamba Allah, Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik untuk Umar bin Abdul Aziz. Aku mengangkatmu sebagai khalifah penggantiku, dan setelah kamu adalah Yazid bin Abdul Malik, maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah dia, janganlah kalian bercerai-berai karena akan mengakibatkan senangnya orang-orang yang menginginkan hal itu terjadi atas kalian.”

Kemudian beliau menutup surat itu dan menyerahkannya kepadaku, selanjutnya dikirim kepada Ka’ab bin Hamiz selaku kepala keamanan. Lalu khalifah berkata, “Perintahkanlah seluruh keluargaku untuk berkumpul dan sampaikan bahwa surat wasiat yang berada di tangan Raja’ bin Haiwah adalah benar-benar pernyataanku. Lalu perintahkan mereka untuk membaiat kepada orang yang disebutkan namanya dalam wasiat itu.”

Setelah semuanya berkumpul, aku berkata, “Ini adalah surat wasiat Amirul Mukminin yang berisi perintah pengangkatan khalifah penggantinya dan beliau telah memerintahkan aku untuk mengambil baiat kalian bagi orang yang tercantum sebagai calon penggantinya.” Mereka berkata, “Kami mendengar, dan akan taat kepada Amirul Mukminin penggantinya.” Setelah itu mereka minta izin menemui Amirul Mukminin untuk mengucapkan salam. Aku berkata, “Silakan.”

Setelah mereka masuk, Sulaiman berkata, “Sesungguhnya surat yang berada di tangan Raja’ berisi pesan bagi khalifah penggantiku maka taatilah dia dan baiatlah kepada orang yang kusebutkan namanya di dalamnya.” Satu demi satu orang-orang membaiat. Kemudian aku keluar dengan membawa surat yang tertutup rapi dan tak ada seorangpun yang tahu selain aku dan Amirul Mukminin.

Setelah orang-orang membubarkan diri, Umar bin Abdul Aziz mendekatiku dan berkata, “Wahai Abu Miqdam, selama ini Amirul Mukminin begitu baik kepadaku dan telah memberiku kekuasaan karena kebijaksanaan dan ketulusannya dalam masalah ini. Oleh sebab itu, aku bertanya karena Allah, atas nama persahabatan dan kesetiakawanan kita, beritahukanlah kepadaku nama tersebut, sedandainya dalam wasiat Amirul Mukminin tersebut ada sesuatu yang ditujukan khusus kepadaku, agar aku bisa menolaknya sebelum terlambat.”

Aku berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan memberitahukan walau satu huruf pun dari isi surat itu tentang apa yang kau inginkan.” Umar bin Abdul Aziz pun pergi dengan kecewa.

Setelah itu giliran Hisyam bin Abdul Malik mendekatiku dan berkata, “Wahai Abu Miqdam, di antara kita telah terjalin persahabatan yang begitu lama. Aku mengucapkan banyak terima kasih untuk itu dan tak akan pernah melupakan jasa-jasamu. Maka tolonglah beritahukan kepadaku isi surat Amirul Mukminin itu. Jika jabatan tersebut diserahkan kepadaku, aku akan tutup mulut, tetapi jika diberikan kepada yang lainnya, akau akan bicara. Orang seperti saya tidak selayaknya dikesampingkan dalam urusan ini. Aku bersumpah tidak akan membocorkan rahasia ini.’

Aku berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan memberitahukan kepadamu satu huruf pun dari isi surat yang dipercayakan Amirul Mukminin kepadaku.” Dia pergi dengan mengepalkan tangannya seraya menggerutu, “Kepada siapa lagi dia menyerahkan jabatan jika aku disingkirkan? Mungkinkah khilafah ini akan lepas dari tangan anak-anak Abdul Malik? Demi Allah, akulah yang paling utama di antara anak-anaka Abdul Malik!”

Kemudian aku masuk untuk menjumpai Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik. Aku perhatikan beliau semakin bertambah parah dan mendekati sakaratul maut. Melihat kegelisahannya, aku menghadapkan beliau ke arah kiblat sementara beliau berkata dengan berat: “Belum tiba saatnya wahai Raja’.” Aku mengulanginya lagi, dan ketika kupalingkan ke kiblat untuk ketiga kalinya beliau berkata, “Sekarang jika engkau hendak melakukan sesuatu, lakukanlah wahai Raja’. Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” Kupalingkan beliau ke arah kiblat dan tak lama kemudian beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Aku pejamkan kedua matanya, aku tutup tubuhnya dengan kain, lalu kututup pintu ruangan itu rapat-rapat. Pada saat utusan istri khalifah, ingin menengoknya aku menghalangi pintu masuk sambil berkata, “Lihatlah dia baru bisa tidur setelah gelisah semalam suntuk. Karena itu biarkanlah dulu dia dengan ketenangannya.”

Syukurlah, ketika utusan istri Sulaiman bin Abdul Malik menyampaikan alasanku diterima dengan baik oleh istri khalifah. Dia yakin kalau suaminya memang sedang tidur. Aku mengunci pintu dan menempatkan seorang penjaga yang kupercaya sambil berpesan kepadanya, “Jangan ijinkan seorang pun masuk hingga aku kembali nanti.”

Kemudian aku pergi untuk menemui orang-orang. Ketika itu mereka bertanya, “Bagaimana keadaan Amirul Mukminin?” Aku menjawab, “Belum pernah beliau setenang ini semenjak sakitnya.” Alhamdulillah, kata mereka.

Setelah itu aku meminta agar Ka’ab bin Hamiz mengumpulkan semua keluarga khalifah di masjid Dabik. Setelah semuanya hadir aku berkata, “Berbaiatlah kalian kepada orang yang tercantum namanya dalam surat ini.” Mereka berkata, “Kami sudah berbaiat kemarin, mengapa harus berbaiat lagi?” Aku berkata, “Ini adalah perintah Amirul Mukminin. Kalian harus menaati perintahnya untuk membaiat orang yang tersebut namanya dalam surat ini.”

Satu persatu mereka pun berbaiat. Setelah kulihat segalanya berjalan dengan lancar, baru aku katakan, “Sesungguhnya Amirul Mukminin telah wafat, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Aku membaca surat wasiat Amirul Mukminin dan membacanya, ketika kusebutkan nama Umar bin Abdul Aziz, spontan Hisyam bin Abdul Malik berteriak: “Aku tidak akan membaiat dia selamanya!” Aku berkata, “Kalau begitu –demi Allah- aku akan memenggal lehermu, bersegeralah engkau baiat dia.” Akhirnya sambil menyeret kedua kakinya dia berjalan menuju Umar bin Abdul Aziz, lalu berkata, “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.” (yakni dia sesalkan mengapa khilafah jatuh ke tangan Umar dan bukan ke tangan salah satu putra Abdul Malik). Umar pun menjawab, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ( yakni beliau menyesali mengapa beliau harus mengemban tugas khalifah).

Itulah baiat yang dengannya Allah memperbarui keislaman dan meninggikan panji-panjinya.

Sungguh beruntung khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dan selamatlah jalannya. Dengan pengangkatannya atas Umar bin Abdul Aziz berarti beliau telah menyelamatkan diri dari tanggung jawab di hadapan Allah. Selamatlah menteri yang tulus Raja’ bin Haiwah yang telah merealisasikan nasihat bagi Allah, Rasul-Nya, dan imam-imam kaum muslimin. Semoga Allah membalas teman akrab yang shalih dengan balasan yang baik dan menggantinya dengan pahala. Dengan kecerdasannya mampu menunjukkan jalan terbaik bagi para penguasa.

Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009
              www.KisahMuslim.com

Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid (Seorang Ulama yang Buta Sejak Kecil)

Kelahiran Beliau

Beliau lahir di Riyadh pada bulan Ramadhan 1329 H (1908 M). Sejak kecil Syaikh Abdullah rahimahullah telah kehilangan penglihatannya. Meski begitu hal ini tidak menghalangi beliau untuk memiliki akhlak yang baik.

Syaikh Abdullah bin Muhammad menghapal Al-Qur’an ketika masih kecil dan dilakukan sambil menuntut ilmu agama dengan penuh kesabaran. Beliau belajar kepada ulama yang ada di Riyadh dan ulama lain yang berkunjung ke Riyadh. Beliau mampu menguasai beberapa jenis pelajaran dengan baik dan kecermelangan otak Syaikh Abdullah diakui guru-gurunya.

Guru-guru Beliau

Diantara ulama yang pernah ditimba ilmunya oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad rahimahullah adalah: Syaikh Hamad bin Faris rahimahullah (darinya beliau belajar Bahasa Arab dan Hadits), Syaikh Sa’ad bin Hamad bin ‘Athiq rahimahullah (dari beliau ia belajar Aqidah dan cabang-cabang keimanan), Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh rahimahullah (darinya beliau belajar prinsip-prinsip agama, hadits dan tafsir), Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif alu Syaikh rahimahullah, dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh rahimahullah.

Semangat Beliau dalam Menebar Ilmu

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh kemudian menunjuk Syaikh Abdullah untuk menjadi pengajar di pendidikan dasar dan sebagai asistennya. Maka dimanapun Syaikh berada Syaikh Abdullah senantiasa menyertai.

Tahun 1357 H (1922 M) Raja Abdul Aziz mengangkat Syaikh Abdullah menjadi Qadhi untuk wilayah Sudayr. Tahun 1363 H (1928 M) beliau ditunjuk menjadi Qadhi untuk wilayah Buraydah dan sekitarnya. Tahun 1377 H (1942 M) beliau minta ijin berhenti menjadi Qadhi karena ingin berkonsentrasi dalam ibadah dan mengajar.

Raja Faishal kemudian mengangkat Syaikh Abdullah untuk menjadi pengarah aktivitas keagamaan Masjidil Haram, mengajar dan juga memberi fatwa disana. Sunguh Allah Ta’ala telah menjadikan umat ini memetik banyak manfaat dari keilmuan Syaikh Abdullah bin Muhammad rahimahullah.

Tahun 1395 H (1974 M) Raja Khalid rahimahullah memilih Syaikh Abdullah menjadi Kepala Komite Qadhi Senior, menjadikan beliau sebagai anggota Lembaga Ulama Senior, Kepala Komite Yurisprudensi (berkaitan dengan hukum-hukum Islam), dan menjadi anggota Komite Pendanaan Ar-Rabithah Al-Alam Al-Islami.

Wafat Beliau

Syaikh Abdullah rahimahullah wafat pada hari Rabu, 20 Dzul Qa’dah 1402 H (1981 ). Jenazah beliau dishalatkan di Masjidil Haram dengan dihadiri banyak kaum muslimin. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau.

Sumber: Untaian Mutiara Kehidupan Ulama Ahlus Sunnah, Penerbit. Qaulan Karima (hal. 21-22)/alsofwah.or.id
Artikel www.KisahMuslim.com

TANDA - TANDA IKHLAS

BUKTI-BUKTI IKHLAS 
Fit-Thariq Ilallah: An-Niyyah wal-Ikhlas, Dari. Yusuf al-Qaradhawi
Ikhlas itu mempunyai bukti penguat dan tanda-tanda yang banyak sekali, contohnya dalam kehidupan orang yang mukhlis; dalam tindak-tanduknya, dalam pandangan terhadap dirinya dan juga orang lain. Di antaranya adalah:

Pertama: Takut Kemasyhuran

Takut kemasyhuran dan menyebarnya kemasyhuran ke atas dirinya, lebih-lebih lagi jika dia termasuk orang yang mempunyai pangkat tertentu. Dia perlu yakin bahawa penerimaan amal di sisi Allah hanya dgn cara sembunyi-sembunyi, tidak secara terang-terangan dan didedahkan. Sebab andaikata kemasyhuran seseorang memenuhi seluruh angkasa, lalu ada niat tidak baik yang masuk ke dalam dirinya, maka sedikit pun manusia tidak memerlukan kemasyhuran itu di sisi Allah.

Maka dari itu zuhud dalam masalah kedudukan, ke

masyhuran, penampilan dan hal-hal yang serba gemerlap lebih besar darip zuhud dalam masalah harta, syahwat perut dan kemaluan. Al-Imam Ibn Syihab az-Zuhri berkata: “Kami tidak melihat zuhud dalam hal tertentu yang lebih sedikit darip zuhud dalam kedudukan. Engkau melihat seseorang berzuhud dalam masalah makanan, minuman dan harta. Namun jika kami membahagi-bahagikan kedudukan, tentu mereka akan berebut dan meminta lebih banyak lagi.”

Inilah yang membuat para ulama salaf dan orang-orang shaleh antara mereka mengkhuatirkan dan menyangsikan hatinya dari ujian kemasyhuran, penipuan dan kedudukan. Oleh kerana itu mereka memperingatkan hal ini kepada murid-muridnya. Para pengarang buku telah meriwayatkan dalam pelbagai gambaran tentang tingkah laku ini, seperti Abu Qasim a-Qusyairi dalam ar-Risalah, Abu Thalib al-Makky dalam Qutul-Qulub, dan al-Ghazali di dalam al-Ihya’.

Begitu pula yang dikatakan seorang zuhud yang terkenal, Ibrahim bin Adham, “Allah tidak membenarkan orang yang suka kemasyhuran.”

Beliau juga berkata, “Tidak sehari pun aku berasa gembira di dunia kecuali hanya sekali. Pada suatu mlm aku berada di dalam masjid salah satu desa di Syam, dan ketika itu aku sdg sakit perut. Lalu muazzin dtg dan menyeret kakiku hingga keluar dari masjid.” 

Beliau berasa senang kerana muazzin tersebut tidak mengenalinya. Maka dari itu beliau diperlakukan secara kasar, kakinya diseret seperti seorang pesakit. Beliau meninggalkan kedudukan dan kekayaannya kerana Allah. Sebenarnya ketika itu beliau tidak ingin keluar jika tidak sakit.

Seorang zuhud yang terkenal, Bisyr al-Hafy berkata, “Saya tidak mengenal orang yang suka kemasyhuran melainkan agama menjadi sirna dan dia menjadi hina.” 

Beliau juga berkata, “Tidak akan merasakan manisnya kehidupan akhirat orang yang suka terkenal di tengah manusia.”

Seseorang pernah menyertai perjalanan Ibn Muhairiz. Ketika hendak berpisah, orang itu berkata, “Berilah aku nasihat.” 

Ibn Muhairiz berkata, “Jika boleh hendaklah engkau mengenal tetapi tidak dikenal, berjalanlah sendiri dan jangan mahu diikuti, bertanyalah dan jangan ditanya. Lakukanlah hal ini.”

Ayyub as-Sakhtiyani berkata, “Seseorang tidak berniat secara benar kerana Allah kecuali jika dia suka tidak merasakan kedudukannya.” 

Khalid bin Mi’dan adalah seorang ahli ibadah yang dipercayai. Jika semakin ramai orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya, maka beliau pun beranjak pergi krg takut dirinya menjadi terkenal.

Salim bin Handzalah menceritakan, “Ketika kami berjalan secara beramai-ramai di blkg Ubay bin Ka’ab, tiba-tiba Umar melihatnya lalu melemparkan susu ke arahnya.”

Ubay bin Ka’ab lalu bertanya, “Wahai Amirul Mu’minin, apakah yang telah engkau lakukan?”

Jawab Umar, “Sesungguhnya kejadian ini merupakan kehinaan bagi yang mengikuti dan ujian bagi yang diikuti.”

Ini merupakan perhatian Umar bin al-Khattab secara psikologi terhadap fenomena yang pada permulaannya boleh menimbulkan kesan dan pengaruh yang jauh terhadap kejiwaan orang-orang yang mengikuti dan sekaligus orang yang diikuti.

Diriwayatkan dari al-Hasan, beliau berkata, “Pada suatu hari Ibn Mas’ud keluar dari rumahnya, lalu diikuti beberapa orang. Maka beliau berpaling ke arah mereka dan berkata: “Ada apa kamu mengikutiku? Demi Allah, andaikata kamu tahu alasanku menutup pintu rumahku, dua orang antara kamu pun tidak akan dpt mengikutiku.”

Pada suatu hari al-Hasan keluar rumah lalu diikuti beberapa orang. Beliau bertanya, “Apakah kamu ada keperluan kepadaku? Jika tidak, mengapa kejadian seperti ini masih tersemat dalam hati orang Mu’min?”

Ayyub as-Sakhtiyani melakukan suatu perjalanan, lalu ada beberapa orang yang mengalu-alukan kedatangannya. Beliau berkata, “Andaikata tidak kerana aku tahu bahawa Allah mengetahi isi hatiku tentang ketidaksukaan aku terhadap hal ini, tentu aku takut kebencian dari Allah.”

Ibn Mas’ud berkata, “Jadilah kamu sbagi sumber ilmu, pelita petunjuk, penerang rumah, obor pada waktu mlm dan pembaharu hati yang diketahui penduduk langit, namun tidak dikenal penduduk bumi.”

Al-Fudhayl ibn Iyadh berkata, “Jika engkau sanggup untuk tidak dikenal, maka lakukanlah. Apa sukarnya engkau tidak dikenal? Apa sukarnya engkau tidak disanjung-sanjung? Tidak mengapalah engkau tercela di hadapan manusia selagi engkau terpuji di sisi Allah. 

Athar-athar ini tidak mengajak kepada pengasingan atau uzlah. Orang-orang yang menjadi sumber riwayat ini adalah para imam dan da’ie. Mereka memiliki pengaruh yang amat baik dalam menyeru masyarakat, mengarahkan dan memperbaiki keadaan manusia. Tetapi yang dpt difahami dari sejumlah penyataan mereka adalah kebangkitan dari naluri jiwa yang tersembunyi, kewaspadaan terhadap tipudaya yang disusupkan syaitan ke dalam hati manusia, jika hati mereka dicampuri hal-hal yang serba gemerlap dan dikelilingi orang-orang yang mengikutinya.

Kemasyhuran itu sendiri bukanlah suatu yang tercela. Tiada yang lebih masyhur darip para Anbia’, al-Khulafa’ ar-Rasyidin, dan imam-imam mujtahidin. Tetapi yang tercela adalah mencari kemasyhuran, takhta dan kedudukan, serta sgt bercita-cita mendapatkannya. Kemasyhuran tanpa cita-cita ini tidaklah menjadi masalah, sekali pun ia ttp menjadi ujian bagi orang-orang yang lemah, seperti yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali.

Sejajar dgn pengertian ini yang telah disebuntukan dalam hadith Abu Dzar darip Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahawa Baginda pernah ditanya tentang seorang lelaki yang melakukan suatu amal kebajikan kerana Allah, lalu orang ramai menyanjungnya.

Maka Baginda menjawab, “Itu kurnia yang didahulukan, sekaligus khabar gembira bagi orang Mu’min.”  (HR Imam Muslim, Ibn Majah dan Ahmad)

Ada pula lafaz lain, “Seseorang melakukan amal kerana Allah lalu orang-orang pun menyukainya..” 

Pengertian seperti inilah yang ditafsirkan oleh al-Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ibn Jarir at-Thabary dan alin-lainnya.

Begitu pula hadith yang ditakhrij Imam at-Tirmidzi dan Ibn Majah, dari hadith Abu Hurairah, bahawa ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang melakukan suatu amal dan dia pun senang melakukannya. Setiap kali dia melakukannya kembali, maka dia pun berasa takjub kepadanya.”

Baginda bersabda, “Dia mempunyai dua pahala, pahala kerana merahsiakan dan pahala memperlihatkan.” 

Kedua: Menuduh Diri Sendiri

Orang yang mukhlis sentiasa menuduh diri sendiri sbagi orang yang berlebih-lebihan di sisi Allah dan krg dalam melaksanakan pelbagai kewajipan, tidak mampu menguasai hatinya kerana terpedaya oleh suatu amal dan takjub pada dirinya sendiri. Malahan dia sentiasa takut andaikata keburukan-keburukannya tidak diampunkan dan takut kebaikan-kebaikannya tidak diterima.

Kerana sikap seperti ini, ada sebahagian di antara para salaf yang menangis tersedu-sedu ketika jatuh sakit. Beberapa orang yang menziarahinya bertanya, “Mengapa engkau masih menangis, padahal engkau suka berpuasa, mendirikan solat malam, berjihad, mengeluarkan sedekah, haji umrah, mengajarkan ilmu dan banyak berzikir?”

Beliau menjawab, “Apa yang membuatkanku tahu bahawa hanya sedikit dari amal-amalku yang masuk dalam timbanganku dan juga diterima di sisi Rabb-ku? Sementara Allah telah berfirman, Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertaqwa,”

Satu-satunya sumber taqwa adalah hati. Maka dari itu al-Quran menambahinya dgn firman Allah yang bermaksud: “Maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati..”  (al-Hajj: 32)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Taqwa itu ada di sini,”  Baginda mengulanginya tiga kali dan menunjuk ke arah dadanya.  (HR Imam Muslim)

Sayyidah Aishah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang-orang yang dinyatakan dalam firman Allah bermaksud: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dgn hati yang takut, (kerana mereka tahu bahawa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”  (al-Mu’minun: 60)

“Apakah mereka orang-orang yang mencuri, berzina, meminum khamar dan mereka takut kepada Allah?”

Baginda menjawab, “Bukan wahai puteri as-Shiddiq. Tetapi mereka adalah orang-orang yang mendirikan solat, berpuasa, mengeluarkan sedekah, dan mereka takut amalnya tidak diterima. Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehinya.”  (HR Imam Ahmad dan lain-lainnya)

Orang yang mukhlis sentiasa takut terhadap riya’ yang menyusup ke dalam dirinya, sdg dia tidak menyedarinya. Inilah yang disebut syahwah khafiyyah yang menyusup ke dalam diri orang yang meniti jalan kepada Allah tanpa disedarinya.

Dalam hal ini Ibn ‘Atha’illah memperingatkan, “Kepentingan peribadi dalam kederhakaan amat jelas dan terang. Sdgkan kepentingan peribadi di dalam ketaatan tersamar dan tersembunyi. Padahal menyembuhkan apa yang tidak nampak itu amat sukar. Boleh jadi ada riya’ yang masuk ke dalam dirimu dan orang lain juga tidak melihatnya. Tetapi kebanggaanmu bila orang lain melihat kelebihanmu merupakan budi ketidakjujuranmu dalam beribadah. Maka kosongkanlah pandangan orang lain terhadap dirimu. Cukup bagimu pandangan Allah terhadap dirimu. Tidak perlu bagimu tampil di hadapan mereka agar engkau terlihat di mata mereka.”

Ketiga: Beramal Secara Diam-Diam, Jauh Dari Liputan

Amal yang dilakukan secara diam-diam harus lebih disukai darip amal yang disertai liputan dan didedahkan. Dia lebih suka memilih menjadi perajurit bayangan yang rela berkorban, namun tidak diketahui dan tidak dikenali. Dia lebih suka memilih menjadi bahagian dari suatu jamaah, ibarat akar pohon yang menjadi penyokong dan saluran kehidupannya, tetapi tidak terlihat oleh mata, tersembunyi di dalam tanah; atau seperti asas bangunan. Tanpa asas, dinding tidak akan berdiri, atap tidak akan dpt dijadikan berteduh dan bangunan tidak dpt ditegakkan. Tetapi ia tidak terlihat, seperti dinding yang terlihat jelas. Syauqy berkata di dalam syairnya:

Landasan yang tersembunyi

Tidak terlihat mata kerana merendah

Bangunan yang menjulang tinggi

Di atasnya dibangun megah

Di bahagian sebelum ini telah dikemukakan hadith Mu’adz, “Sesungguhnya Allah menyintai orang-orang yang berbuat kebaikan, bertaqwa dan menyembunyikan amalnya, iaitu jika tidak hadir mereka tidak diketahui. Hati mereka adalah pelita-pelita petunjuk. Mereka keluar dari setiap tempat yang gelap.”

Keempat: Tidak Memerlukan Pujian Dan Tidak Tenggelam Oleh Pujian

Tidak meminta pujian orang-orang yang suka memuji dan tidak bercita-cita mendapatkannya. Jika ada seseorang memujinya, maka dia tidak terkecoh tentang hakikat dirinya di hdpn orang yang memujinya, kerana mmg dia lebih mengetahui tentang rahsia hati dan dirinya darip orang lain yang boleh tertipu penampilan dan tidak mengetahui batinnya.

Ibn ‘Atha’illah berkata, “Orang-orang memujimu dari persangkaan mereka tentang dirimu. Maka adalah engkau orang yang mencela dirimu sendiri kerana apa yang engkau ketahui pada dirimu. Orang yang paling bodoh adalah yang meninggalkan keyakinannya tentang dirinya kerana ada persangkaan orang-orang tentang dirinya.”

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh, bahawa jika dipuji orang lain maka beliau berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku kerana apa yang mereka katakan. Berikanlah kebaikan kepadaku dari apa yang tidak mereka ketahui.”

Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anh berkata kepada orang-orang yang mengekori dan mengerumuninya, “Andaikata kamu tahu alasanku menutup pintu rumahku, dua orang antara kamu pun tidak akan dpt mengikutiku.” Padahal beliau adalah sahabat yang menonjol, pemuka petunjuk dan pelita Islam.

Sekumpulan orang memuji seorang Rabbani. Lalu dia mengadu kepada Allah sambil berkata, “Ya Allah, mereka tidak mengenalku dan hanya Engkaulah yang mengetahui siapa diriku.”

Salah seorang yang shaleh bermunajat kepada Allah, kerana sebahagian orang ada yang memujinya dan menyebut-nyebut kebaikan dan kemuliaan akhlaknya: 

Mereka berbaik sangka kepadaku

Padahal hakikatnya tidaklah begitu

Tetapi aku adalah orang yang zalim

Sbagimana yang Engkau sedia maklum

Kau sembunyikan semua aib yang ada

Dari pandangan mata mereka

Kau kenakan pakaian menawan

Sbagi tabir tutupan

Jadilah mereka meyintai

Padahal aku tidak layak dicintai

Tapi hanyalah diserupai

Janganlah Engkau hinakan aku

Pada Hari Qiamat di tengah mereka

Jadikanlah aku yang mulia

Termasuk yang hina dina

Penyair yang shaleh ini mengisyaratkan makna yang lembut dan sgt penting, iaitu keindahan tabir yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya. Brp banyak cela yang tersembunyi, dan Allah menutupinya dari pandangan orang ramai. Andaikata Allah membuka tabir itu dari pandangan mereka, tentu kelemahannya akan terserlah dan kedudukannya akan jatuh. Tetapi kurnia Allah enggan untuk menyingkap tabir kelemahan hamba-hambaNya, sbagi kurnia dan kemuliaan baginya.

Seerti dgn ini telah dikatakan oleh Ibn ‘Atha’illah, “Sesiapa yang memuliakanmu, sbnrnya dia telah memuliakan keindahan tabir pada dirimu. Keutamaan ada pada diri orang yang memuliakanmu dan menutupi aibmu, bukan pada diri orang yang menyanjungmu dan berterima kasih kepadamu.”

Abu al-Atahiyah berkata dalam syairnya:

Allah telah berbuat baik kepada kita

Kerana kesalahan tidak menyebar ke mana-mana

Apa yang tersembunyi pada diri kita

Tentu tersingkap di sisiNya

Kelima: Tidak Kedekut Pujian Terhadap Orang Yang Mmg Layak Dipuji

Tidak kedekut memberikan pujian kepada orang lain yang mmg layak dipuji dan menyanjung orang yang mmg layak disanjung. Di sana ada dua bencana yang bakal muncul: Pertama, memberikan pujian dan sanjungan kepada orang yang tidak berhak. Kedua, kedekut memberikan pujian kepada orang yang layak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memuji sekumpulan para sahabatnya, menyebut-nyebut keutamaan dan kelebihan mereka, seperti sabda Baginda tentang Abu Bakar yang bermaksud: “Andaikata aku boleh mengambil seorang kekasih selain Rabb-ku, nescaya aku mengambil Abu Bakar sbagi kekasihku. Tetapi dia adalah saudara dan sahabatku.”

Sabda Baginda kepada Umar: “Andaikata engkau melalui suatu jalan, tentu syaitan akan melalui jalan yang lain.”

Sabda Baginda kepada Uthman: “Sesungguhnya beliau adalah orang yang para malaikat pun berasa malu terhadap dirinya.”

Sabda Rasulullah terhadap Ali: “Di mataku engkau seperti kedudukan Harun di mata Musa.”

Sabda Rasulullah terhadap Khalid bin al-Walid: “Beliau adalah salah satu darip pedang-pedang Allah.”

Sabda Rasulullah terhadap Abu Ubaidah: “Beliau adalah kepercayaan umat ini.”

Masih ramai sahabat yang dipuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kerana kelebihan dan keistimewaan mereka. Di antara mereka ada dari kalangan pemuda, seperti Usamah bin Zaid yang diangkat menjadi komandan pasukan perang, padahal dalam pasukan tersebut terdapat para pemuka sahabat. Baginda mengangkat Itab bin Usaid sbagi pegawai di Makkah, padahal umurnya masih dua puluh thn. Mu’adz bin Jabal dikirim ke Yaman, padahal beliau masih muda. Sebahagian di antara mereka lebih diutamakan darip orang-orang yang lebih terdahulu memeluk Islam, kerana kelebihan dirinya, seperti Khalid bin al-Walid dan Amr bin al-Ash.

Boleh jadi seseorang tidak mahu memberikan pujian kepada orang yang layak dipuji, kerana ada maksud tertentu dalam dirinya, atau kerana rasa iri hati yang disembunyikan, seperti takut campurtangan di pejabatnya, atau menyaingi kedudukannya. Kerana dia juga tidak mampu untuk melemparkan celaan, maka setidak-tidaknya dia hanya berdiam diri dan tidak perlu menyanjungnya.

Kita melihat bagaimana Umar bin al-Khattab yang meminta pendapat Ibn Abbas dalam pelbagai urusan, padahal Ibn Abbas masih sgt muda. Maka para pemuka sahabat berkata kepadanya, “Bicaralah wahai Ibn Abbas. Kerana usia yang muda tidak menghalangimu untuk berbicara.”

Keenam: Berbuat Selayaknya Dalam Memimpin

Orang yang mukhlis kerana Allah akan berbuat selayaknya ketika menjadi pemimpin di barisan terhadapan dan ttp patriotik ketika berada paling blkg, selagi dalam dua keadaan ini dia mencari keredhaan Allah. Hatinya tidak dikuasai kesenangan untuk tampil, menguasai barisan dan menduduki jabatan strategi dalam kepimpinan. Tetapi dia lebih mementingkan kemashlahatan bersama kerana takut ada kewajipan dan tuntutan kepimpinan yang dia lewatkan.

Apa pun keadaannya dia tidak bercita-cita dan tidak menuntut kedudukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi jika dia dibebankan tugas sbagi pemimpin, maka dia melaksanakannya dan memohon pertolongan kepada Allah agar dia mampu melaksanakannya dgn baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mensifatkan kelompok orang seperti ini dalam sabda Baginda yang bermaksud:

“Keuntungan bagi hamba yang mengambil tali kendali kudanya fi sabilillah, yang kusut kepalanya dan yang kotor kedua telapak kakinya. Jika kuda itu berada di barisan blkg, maka dia pun berada di kedudukan penjagaan.”  (HR Imam Bukhari)

Allah meredhai Khalid bin al-Walid yang diberhentikan sbagi komandan pasukan, sekali pun beliau seorang komandan yang sentiasa mendapat kemenangan. Stelah itu beliau pun menjadi orang bawahan Abu Ubaidah tanpa rasa rendah diri. Dalam kedudukan seperti itu pun beliau ttp ikhlas memberikan pertolongan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan seandainya ada seseorang yang meminta jawatan dan sengaja untuk mendapatkannya. Telah disebuntukan di dalam as-Shahih, bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah:

“Janganlah engkau memimta jawatan pemimpin. Kerana jika engkau memperoleh jawatan itu tanpa meminta maka engkau akan mendapat sokongan, dan jika engkau memintanya, maka semua tanggungjawab akan dibebankan kepadamu.”  (Muttafaq ‘Alaihi)

Ketujuh: Mencari Keredhaan Allah, Bukan Keredhaan Manusia 

Tidak memperdulikan keredhaan manusia jika di sebalik itu ada kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab setiap orang di antara satu sama lain saling berbeza dalam sikap, rasa, pemikiran, kecenderungan, tujuan dan jalan yang ditempuh. Berusaha membuat mereka redha adalah suatu yang tidak bertepi, tujuan yang sulit diketahui dan tuntutan yang tidak terkabul. Dalam hal ini seorang penyair berkata:

Adakalanya seseorang

Membuat redha sekian ramai orang

Kini betapa jauh jarak yang membentang

Di tengah tuntutan-tuntutan hawa nafsu

Penyair lain berkata:

Jika aku meredhai orang-orang yang mulia

Tentunya aku memurkai orang-orang yang hina

Orang yang mukhlis tidak terlalu peduli dgn semua ini, kerana syiarnya hanya bersama Allah. Dikatakan dalam satu syair:

Boleh jadi engkau mengasingkan diri

Tetapi hidup ttp terasa pahit di hati

Boleh jadi engkau redha

Padahal orang lain murka

Engkau membangun dan orang lain merobohkan

Antara diriku dan alam ada kerosakan

Jika di hatimu ada cinta semua itu tiada daya

Apa yang ada di atas tanah

Ttp menjadi tanah

Kedelapan: Menjadikan Keredhaan Dan Kemarahan Kerana Allah, Bukan Kerana Kepentingan Peribadi

Kecintaan dan kemarahan, pemberian dan penahanan, keredhaan dan kemurkaan harus dilakukan kerana Allah dan agamaNya, bukan kerana pertimbangan peribadi dan kepentingannya, tidak seperti orang-orang munafik opportunis yang dicela Allah dalam KitabNya:

“Dan di antara mereka ada yang mencela mu tentang (pembahagian) zakat. Jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dgn serta merta mereka menjadi marah.”  (at-Taubah: 58)

Boleh jadi engkau pernah melihat orang-orang yang aktif dalam lapangan dakwah, apabila ada salah seorang rakannya melontarkan perkataan yang mengganggu atau melukai perasaannnya, atau ada tindakan yang menyakiti dirinya, maka secepat itu pula dia marah dan meradang, lalu meninggalkan harakah dan aktivitinya, meninggalkan medan jihad dan dakwah.

Ikhlas untuk mencapai tujuan menuntutnya untuk cekal dalam berdakwah dan gerak langkahnya, sekali pun orang lain menyalahkan, meremehkan dan bertindak melampaui batas terhadap dirinya. Sebab dia berbuat kerana Allah, bukan kerana kepentingan peribadi atau atas nama keluarga, serta bukan kerana kepentingan orang tertentu.

Dakwah kepada Allah bukan seperti harta yang ditimbun atau harta milik seseorang. Tetapi dakwah merupakan milik semua orang. Siapa pun orang Mu’min tidak boleh menarik diri dari medan dakwah ini hanya kerana sikap atau tindakan tertentu yang mempengaruhi dirinya.

Kesembilan: Sabar Sepanjang Jalan

Perjalanan yang panjang, lambatnya hasil yang diperoleh, kejayaan yang tertunda, kesulitan dalam bergaul dgn pelbagai lapisan manusia dgn perbezaan perasaan dan kecenderungan mereka, tidak boleh membuatnya menjadi malas, bersikap leka, mengundurkan diri, atau berhenti di tengah jalan. Sebab dia berbuat bukan sekadar untuk sebuah kejayaan atau pun kemenangan, tetapi yang plagi pokok tujuannya adalah untuk keredhaan Allah dan menuruti perintahNya.

Nabi Nuh ‘alaihissalam, pemuka para anbia’, hidup di tengah kaumnya selama 950 thn. Beliau berdakwah dan bertabligh, namun hanya sedikit sekali yang mahu beriman kepada beliau. Padahal pelbagai cara dakwah sudah ditempuh, waktu dan bentuk dakwahnya juga pelbagai cara, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah melalui perkataan beliau:

“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan terlalu menyombongkan diri.”  (Nuh: 5-7)

Sekali pun harus menghabiskan masa selama 950 thn, beliau ttp menyeru kaumnya dan akhirnya ada 40 orang yang berhimpun bersama beliau. Sedangkan kaumnya yang lain berpaling dari beliau, sekali pun beliau sgt berharap mereka mahu beriman.

Al-Quran telah mengisahkan kepada kita individu-individu Mu’min di dalam surah al-Buruj. Mereka rela mengorbankan nyawa fi sabilillah dan mereka tidak mengatakan, “Kematian ini dpt memberi apa-apa manfaat terhadap dakwah kita?”

Mereka tidak berkata seperti itu, kerana mereka mempunyai keteguhan hati dan pengorbanan. Kejayaan dakwah ada di tgn Allah. Siapa yang tahu kalau pun darah mereka itu merupakan santapan lazat bagi pohon iman generasi berikutnya?

Perkara yang prinsip, alam orang yang mukhlis hanya bagi Allah semata. Dia cekal dalam hal ini dan terus seperti itu. Hasil dan buah di dunia diserahkan kepada Allah, kerana Allah-lah yang menyediakan penyebabnya dan membatasi waktunya. Dia hanya sekadar berusaha. Jika berjaya, maka segala puji hanya bagi Allah, dan jika gagal, maka segala daya kekuatan itu hanya milik Allah.

Sesungguhnya di akhirat Allah tidak akan bertanya kepada manusia, “Mengapa engkau tidak memperoleh kemenangan?” Tetapi Dia akan bertanya, “Mengapa engkau tidak berusaha?”

Allah tidak bertanya, “Mengapa engkau tidak berjaya?” Tetapi Dia bertanya, “Mengapa engkau tidak melakukannya?”

Kesepuluh: Berasa Senang Jika Ada Yang Bergabung

Berasa senang jika ada seseorang yang mempunyai kemampuan, bergabung dalam barisan mereka yang mahu beramal, untuk menegakkan bendera atau ikut taat dalam amal. Hal ini harus disertai dgn usaha memberikan kesempatan kepadanya, sehingga dia dpt mengambil tempat yang sesuai dgn kedudukannya. Dia tidak harus rasa terganggu, terganjal, dengki atau pun gelisah kerana kehadirannya. Malahan jika orang yang mukhlis melihat ada orang lain yang lebih baik darip dirinya yang mahu memikul tanggungjawabnya, maka dgn senang hati dia akn mundur, memberikan tanggungjawabnya kepada orang itu dan dia berasa senang menyerahkan jawatan kepadanya.

Sebahagian orang yang memegang jawatan, lebih-lebih lagi jika berada di barisan hadapan, tidak mahu menyerah dalam mempertahankan kedudukannya, tidak mahu berundur walau bagaimanapun keadaannya dan suka menekan orang lain. Dia berkata, “Ini merupakan kedudukan yang telah diberikan Allah kepadaku, maka aku tidak mahu melepaskannya. Ini adalah pakaian yang telah dikenakan kepadaku, maka aku tidak mahu membukanya. Kedudukan ini dtg dari langit.”

Padahal waktu terus berlalu, keadaan berubah dan kekuatan menjadi lemah. Setiap masa diperuntukkan bagi mereka yang sesuai dgnnya, sebagaimana setiap tempat diperuntukkan bagi orang yang mmg sesuai dgn tenoat itu. Banyak cemuhan ditujukan kepada penguasa yang bermati-matian mempertahankan kerusi dan kedudukannya, dgn anggapan bahawa merekalah yang paling mampu mengendalikan perahu dan menjaganya dari terpaan angin taufan.

Ketika mendapat kritik dari orang lain, para da’ie Muslim tidak boleh menutup mata atau menutup telinga. Mereka juga tidak boleh lpada tgn demi kemaslahatan dakwah sebagaimana orang lain yang tidak boleh lps tgn demi kemaslahatan negara dan ummah. Kerana andai lpada tgn, boleh jadi itu merupakan belenggu syaitan dan godaan yang dibisikkan ke dalam hati para aktivitis Islam. Sehingga jika yang lebih banyak berbicara adalah kepentingan diri sendiri, kecintaan kepada kedudukan dan dunia, maka itu dianggap pengabdian terhadap agama.

Brp ramai jemaah atau harakah yang disusupi kezaliman dari luar, pengaruh dari dalam atau kepincangan dalam berfikir dan beramal, tiada inovasi dan tajdid, sbagi akibat dari kerakusan satu atau dua orang yang terlibat di dalamnya. Dia tidak mahu melepaskan kedudukannya kepada orang lain. Dia lupa bahawa bumi ini terus berputar, planet-planet terus berlalu, dunia terus berubah. Tetapi ternyata mereka tidak mahu berputar seiring dgn putaran bumi, tidak berubah seiring dgn perubahan waktu dan tempat serta keadaan manusia.

Malahan di antara mereka ada yang memikul beban dan tanggungjawab melebihi kemampuan bahunya. Padahal maksudnya ialah untuk menghalang jalan bagi orang lain yang lebih mampu dan lebih bertenaga, bukan sahaja orang lain itu dpt dikerahkan untuk mengurangkan beban amanat yang dipikulnya malah sekaligus sbagi melatih diri untuk memikul tanggungjawab.

Kesebelas: Rakus Terhadap Amal Yang Bermanfaat 

Di antara bukti ikhlas adalah rakus terhadap amal yang paling diredhai Allah, dan bukan yang paling diredhai oleh dirinya sendiri. Sehingga orang yang mukhlis lebih mementingkan amal yang lebih banyak manfaatnya dan lebih mendalam pengaruhnya, tanpa disusupi hawa nafsu dan kesenangan diri sendiri.

Dia senang melakukan puasa nafilah dan solat dhuha. Namun sekali pun waktunya dihabiskan untuk mendamaikan mereka yang sdg bertikai, justeru itulah yang lebih dipentingkannya. Dalam sebuah hadith disebuntukan:

“Ketahuilah, akan ku khabarkan kepadamu tentang sesuatu yang lebih utama darip darjat puasa, solat dan sedekah. Iaitu mendamaikan di antara sesama manusia. Sebab kerosakan di antara sesama amnusia adalah pemotong.”  (HR Imam Abu Daud dan at-Tirmidzi, hadith shahih)

Dia mendapatkan kesenangan di hati dan kegembiraan di dalam jiwa jika boleh melaksanakan umrah pada setiap bulan Ramadhan dan haji pada musimnya. Tetapi dikatakan kepadanya, “Sumbangkan saja wang itu untuk ikhwan kita di Palestin atau Bosnia atau Kashmir yang sdg mengalami kehancuran.” Jika hatinya tidak lapang dan menolak, maka dia seperti apa yang dikatakan al-Ghazali sbagi orang yang tertipu.

Ada seorang penderma dari salah satu negara kaya yang berkunjung ke Afrika untuk membangun sebuah masjid. Di sana dia ditemui oleh para wakil masyarakat, yang mengusulkan akar dia membaiki bbrp masjid lama yang hampir roboh. Sementara masjid-masjid itu berada di tempat strategik di tengah permukiman penduduk dan kewujudannya sgt diperlukan. Tabung yang mestinya untuk membangun satu masjid yang direncanakan, cukup untuk membaiki sepuluh masjid lama yang sudah ada dan hampir roboh itu. Tetapi ternyata dia menolak, kecuali jika namanya digunakan untuk nama-nama masjid tersebut.

Kedua Belas: Menghindari Ujub

Di antara tanda kesempurnaan ikhlas ialah tidak merosak amal dgn ujub, berasa senang dan puas terhadap amal yang telah dilakukannya. Sikap seperti ini dpt membutakan matanya untuk melihat celah-celah yang sewaktu-waktu muncul. Seharusnya apa yang perlu dilakukan oleh orang Mu’min stelah melaksanakan suatu amal ialah takut jikalau dia telah melakukan kelalaian, disedari mahupun tidak disedari. Maka dari itu dia takut jikalau amalnya tidak diterima. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari mereka yang bertaqwa.”  (al-Maidah: 27)

Di antara ungkapan yang sgt berkesan dalam masalah ini, yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib adalah, “Suatu keburukan yang menyesakkanmu lebih baik di sisi Allah darip kebaikan yang membuatmu ujub.”

Pengertian seperti ini juga ditetapkan Ibn ‘Atha’illah di dalam Al-Hikam, beliau berkata, “Boleh jadi Allah membuka pintu ketaatan bagimu, tetapi tidak membuka pintu penerimaan amal bagimu. Boleh jadi Allah mentaqdirkan kederhakaan ke atas dirimu, lalu kederhakaan itu menjadi sebab yang menghantarkan ke tujuan. Kederhakaan yang membuahkan ketundukan dan kepasrahan lebih baik darip ketaatan yang membuahkan ujub dan kesombongan.”

Dari sini al-Quran memperingatkan agar tidak menyertai sedekah dgn menyebut-nyebut sedekah itu dan ucapan yang menyakitkan, kerana dikhuatirkan justeru menggugurkan pahala yang dihilangkan pengaruhnya. Allah berfirman yang bermaksud:

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik darip sedekah yang diiringi dgnsuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekah kamu dgn menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya kerana riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan bagi orang itu adalah seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah ia bersih (tidak bertanah).”  (al-Baqarah: 263-264)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan ujub dan menjadikannya termasuk hal-hal yang merosak. Ibn Umar meriwayatkan dari Baginda yang bermaksud:

“Tiga perkara yang merosak dan tiga perkara yang menyelamatkan. Sedangkan perkara-perkara yang merosak adalah kedekut yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujub seseorang terhadap dirinya.”  (HR Imam at-Thabrani, hadith hasan dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir, no. 3045)

Al-Quran telah mengisahkan kepada kita kejadian yang dialami kaum Muslimin pada waktu Perang Hunain. Allah telah memberikan kemenangan kepada mereka sewaktu Perang Badar, padahal mereka sama sekali tidak diunggulkan menang. Allah juga memberikan kemenangan kepada mereka pada Perang Khandaq, yang sebelum itu pandangan mereka meredup, hati mereka naik ke atas hingga sampai ke tenggorokan, mereka menduga yang bukan-bukan terhadap Allah dan mereka tergoncang dgn hebat. Allah juga memberikan kemenanagn kepada mereka pada waktu Perang Khaibar dan Fathu Makkah. Tetapi pada waktu Perang Hunain mereka menjadi ujub kerana jumlah mereka yang banyak. Ternyata jumlah yang banyak ini tidak memberi manfaat apa-apa, hingga mereka pasrah kepada Allah. Mereka pun menyedari bahawa kemenangan datang hanya dari sisi Allah. Dia berfirman yang bermaksud:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai kaum Mu’min) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, iaitu pada waktu kamu menjadi sombong kerana banyaknya jumlah kamu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kamu, kemudian kamu lari ke blkg dgn bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada mereka yang beriman.”  (at-Taubah: 25-26)

Orang Mu’min yang sedar adalah mereka yang menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah, lalu percaya bahawa kemenangan hanya dtg dari sisiNya. Firman Allah:

“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (Aali Imran: 126)

Kemuliaan juga datang hanya dari sisiNya:

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu.”  (Fathir: 10)

Taufiq kepada hal-hal yang baik juga berasal dari pertolongan Allah. FirmanNya:

“Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dgn (pertolongan) Allah.”  (Hud: 88)

Hidayah hanya dtg dari sisiNya:

“Barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tidak boleh mendapatkan seorang pemimpin pun yang dtg yang mampu memberikan petunjuk kepadanya.”  (al-Kahfi: 17)

Dikatakan dalam sebuah syair:

Andaikan Allah tiada mempedulikan kehendakmu

Nescaya tidak akan ada pilihan bagi semua manusia

Andaikan Dia tidak memberi petunjuk jalanmu

Nescaya kau akan tersesat sekali pun langit ada di sana

Ketiga Belas: Peringatan Agar Membersihkan Diri

Al-Quran telah memperingatkan untuk membersihkan diri dari pujian dan sanjungan ke atas dirinya, sebagaimana firmanNya:

“Dia lebih mengetahui tentang (keadaan) kamu, ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih dalam janin perut ibumu. Maka janganlah kamu mengatakan diri kamu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.”  (an-Najm: 32) 

Allah mencela orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menganggap dirinya suci. Firman-Nya yang bermaksud:

“Apakah kamu tidak memerhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan sesiapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”  (an-Nisa: 49)

Hal ini terjadi kerana mereka berkata, seperti yang dijelaskan Allah yang bermaksud:

“Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.”  (al-Maidah: 18)

Perkataan mereka ini disanggah dengan firman-Nya yang bermaksud:

“Tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni sesiapa yang dikehendaki-Nya dan menyeksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, kepunyaan  Allah-lah kerajaan di antara keduanya, dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).”  (al-Maidah: 18)

Orang yang telah melakukan sesuatu amal shaleh, tidak boleh mempamerkan amalnya itu, kecuali jika untuk menyampaikan nikmat Rabb-Nya:

“Dan terhadap nikmat Rabb-mu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dgn bersyukur).”  (ad-Dhuha: 11)

Selain itu ia bertujuan untuk memancing orang lain agar mengikutinya. Sabda Baginda yang bermaksud:

“Barangsiapa membuat sunnah yang baik, maka dia mendapat pahala sunnah itu dan pahala orang yang mengerjakannya.”  (HR Imam Muslim)

Dibolehkan juga jika bertujuan untuk membela diri kerana ada tuduhan yang dilemparkan kepadanya, padahal dia tidak bersangkut-paut dgn tuduhan tersebut, atau mungkin ada sebab-sebab lain. Semua itu diperbolehkan bagi orang yang batinnya sudah kuat kerana Allah semata dan bukan kerana tujuan yang bukan-bukan serta tidak tergolong pada ujub, tidak bertujuan mencari sanjungan dari orang lain dan mendapatkan kedudukan di kalangan masyarakat. Namun memang jrg orang yang bebas dari tujuan ini.

Orang Islam harus waspada, jangan sampai ujub terhadap diri sendiri, kerana kebaikan dan keshalihan yang dilakukannya, atau keyakinan bahawa hanya dialah yang beruntung sdg yang lain merugi, atau dia dan jamaahnyalah yang layak disebut al-firqah an-najiyyah (golongan yang selamat) sdgkan semua kaum Muslimin rosak, atau hanya merekalah yang layak disebut thaifah manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan) sdgkan yang lain dibiarkan.

Pandangan terhadap diri sendiri seperti ini adalah ujub yang merosak, dan pandangan terhadap orang-orang Islam seperti itu adalah pelecehan yang menghinakan.

Dalam sebuah hadith shahih disebuntukan: “Jika seseorang berkata ‘Manusia telah rosak’, maka dialah yang lebih rosak darip mereka.”  (HR Imam Muslim)

Hadith ini diriwayatkan dgn bacaan ‘ahlakuhum’, dgn pengertian bahawa justeru dialah yang lebih banyak dan lebih cepat menimbulkan kerosakan, kerana dia terpedaya oleh diri sendiri, congkak terhadap amalannya dan melecehkan orh lain. Dgn bacaan dan makna seperti ini, bererti dialah yang menyebabkan kerosakan mereka, kerana dia berasa lebih unggul dari mereka dan juga membuatkan mereka berputus asa terhadap rahmat Allah.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Larangan ini ditujukan kepada orang-orang yang berkata seperti itu, kerana ujub terhadap diri sendiri, mengecilkan orang lain dan berasa dirinya lebih unggul  dari mereka. Ini adalah perbuatan yang diharamkan. Tetapi jika perkataan seperti itu disampaikan kerana memang ada kekurangan dalam pengamalan agama mereka atau kerana rasa prihatin terhadap situasi mereka dan juga situasi agama mereka, maka hal itu tidak apa-apa. Inilah yang ditafsir dan dihuraikan oleh para ulama, seperti yang dikatakan olek Malik bin Anas, al-Khattabi, al-Humaidi dan lain-lainnya.

Dalam hadith lain disebutkan, yang bermaksud:

“Cukuplah seseorang disebut buruk jika dia mencela saudara Muslimnya.”  (HR Imam Muslim)

Sebab di antara orang Islam atas orang Islam lainnya adalah dilarang menzalimi, menghinakan dan melecehkannya. Tidak mungkin seseorang mencela saudaranya sendiri, sdgkan mereka ibarat dua cabang yang melekat di satu pohon yang sama.

Lihat apa yang dihuraikan oleh al-Ghazali di dlm Dzammusy-Syuhrah wa Intisyarushshit, dan Bayanu Fadhilatil-Khumul, dari kitab Dzamjul-Jah war-Riya’, dari kitab al-Ihya’, yang disyarahkan al-Allamah Murtadha az-Zubaidi, 8/232-238

Rufai’ bin Mihraan (Abu Al-‘Aliyah)

Rufai’ bin Mihraan  yang dijuluki Abu Al-‘Aliyah termasuk ulama di antara kaum muslimin, tokoh di antara tokoh-tokoh penghafal Al-Qur’an dan muhadditsin. Beliau termasuk tabi’in yang paling tahu tentang Kitabullah, paling paham terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, paling banyak kadar pemahamannya terhadat Al-Qur’an Al-Aziz dan paling mendalami maksud dan rahasia yang terkandung di dalamnya. Maka marilah kita menelusuri sejarah hidupnya dari awal.

Sejarah hidupnya penuh dengan sikap teladan dan kemuliaan, melimpah dengan nasihat dan pelajaran yang berharga.

Rufai’ bin Mihraan lahir di Persi. Di negeri itu pula beliau tumbuh besar. Ketika kaum muslimin masuk ke negeri Persi untuk mengeluarkan penduduknya dari kegelapan menuju cahaya. Rufai’ termasuk salah satu pemuda yang jatuh ke tangan kaum muslimin  yang penyayang, lalu dibawa ke pangkuan mereka yang serat dengan kebaikan dan kemuliaan.

Kemudian beberapa saat dia dan juga yang lain memperlihatkan keluhuran Islam, lalu membandingkan dengan apa yang mereka anut sebagai penyembah berhala, akhirnya mereka masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. Kemudian mereka mulai mempelajari Kitabullah, mereka pun haus akan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rufai’ bercerita tentang apa yang beliau alami:

Aku dan beberapa orang dari kaumku menjadi tawanan mujahidin, kemudian kami menjadi budak bagi sekelompok kaum muslimin di Bashrah. Tidak berapa lama kemudian akhirnya kami beriman kepada Allah dan tertarik untuk menghafalkan Kitabullah. Di antara kami ada yang menebut dirinya kepada majikannya dan ada  yang tetap berkhidmat kepada majikannya. Saya adalah salah satu di antara mereka. Pada mulanya kami menghafalkan Al-Qur’an setiap malam sekali, namun hal itu sangat memberatkan kami. Lalu kami sepakati untuk mengkhatamkan dua malam sekali, namun itu masih terasa berat bagi kami. Kemudian kami sepakat untuk mengkhatamkan Al-Qur’an tiga hari sekali, namun masih berat juga kami rasakan karena harus banyak bekerja siang harinya dan begadang di malam harinya.

Kemudian kami menemui sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengeluhkan keadaan kami yang harus begadang semalam untuk tilawah Kitabullah. Mereka berkata, “Khatamkanlah setiap Jum’at sekali.” Maka kami pun mengerjakan apa yang mereka sarankan. Kami membaca Al-Qur’an pada sebagian malam dan bisa tidur sebagian malam dan setelah itu kami tidak merasakan keberatan.

Rufai’ bin Mihran dimiliki oleh seorang majikan wanita dari Bani Tamim. Dia adalah seoang majikan yang teguh, cerdas dan terhormat juga jiwanya penuh dengan takwa dan keimanan. Rufai’ membantunya pada sebagian siang dan istrihat pada sebagian siang yang lain. Beliau gunakan waktu senggangnya untuk membaca dan menulis. Beliau pergunakan untuk memperdalam ilmu agama tanpa sedikitpun mengganggu tugas-tugasnya.

Suatu hari Jum’at, Rufai’ berwudhu dan memperbagus wudhunya kemudian meminta ijin kepada majikannya untuk pergi. Majikannya berkata, “Hendak kemanakah kamu wahai Rufai’?” Rufai’ menjawab, “Saya hendak ke masjid.” Majikannya bertanya, “Masjid manakah yang engkau maksud?” Jawabnya, “Masjid Jami’” majikannya berkata, “Kalau begitu marilah berangkat bersamaku.” Maka keduanya berangkat ke masjid lalu masuk masjid seperti yang lain. Namun Rufai’ belum memahami apa tujuan majikannya.

Ketika kaum muslimin telah berkumpul, majikan Rufai’ angkat bicara, “Saksikanlah wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku telah memerdekakan budakku ini (Rufai’) karena mengharap pahal Allah, memohon ampunan dan ridha-Nya. Dan bahwasanya tidak layak seseorang menempuh suatu jalan melainkan jalan yang baik.” Lalu dia menoleh kepada Rufai’ dan berdo’a kepada Allah:

“Ya Allah, aku menjadikannya sebagai tabungan di sisi-Mu di hari dimana tiada manfaatnya harta dan anak-anak.”

Ketika selesai shalat, Rufai’ telah berjalan sendiri sedangkan majikannya telah berjalan sendiri pula.

Sejak hari itu, Rufai’ bin Mihran sering bolak-balik ke Madinah Al-Munawarah. Beliau sempat bertemu dengan Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu beberapa saat sebelum wafatnya. Beliau juga beruntung dapat bertemua amirul mukminin (Umar bin Khaththab), belajar Al-Qur’an kepadanya dan shalat di belakangnya.

Di samping berkutat dengan Kitabullah, Rufai’ yang julukannya adalah Abu Al-Aliyah ini juga akrab dengan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau berusaha mendengarkan  riwayat hadits dari para tabi’in yang beliau temui di Bashrah. Akan tetapi muncul keinginan kuat dalam jiwanya untuk lebih dari itu. Maka seringkali beliau meluangkan waktu untuk pergi ke Madinah untuk mendengarkan hadits langsung dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tiada pembatas antara dirinya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan satu orang atau dua orang saja.

Beliau meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud, Ubaik bin Ka’ab, Abu Ayyub Al-Anshari, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas dan para sahabat yang lain.

Abu Al-Aliyah tidak hanya mencukupkan diri mengambil hadits di Madinah Al-Munawarah saja.  Namun beliau tidak segan-segan memburu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di manapun ia berada. Jika dikatakan kepada beliau ada seseorang yang berilmu, maka beliau tarik kekang kendaraannya kendati jauh jaraknya, walaupun membutuhkan waktu yang lama. Jika beliau telah sampai, beliau shalat di belakang orang yang dituju. Jika beliau mendapatkan shalatnya tidak sungguh-sungguh dan tidak konsisten dengan Sunnah, tidak memperhatikan hak-hak shalat, maka beliau berpaling sambil bergumam, “Sesungguhnya orang yang meremehkan shalat tentulah untuk urusan yang selainnya lebih meremehkan. Lalu beliau mengambil perbekalannya dan kembali pulang.”

Abu Al-Aliyah mencapai prestasi dalam hal ilmu melejit jauh dari seluruh teman-teman-teman sebenarnya. Salah seorang sahabatnya berkata, “Aku melihat Abu Al-Aliyah berwudhu, air menetes dari wajah dan kedua tangannya, dia melakukan thaharah pada anggota badan sebagaimana mestinya. Aku mengucapkan salam dan berkata, “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertaubat dan suka thaharah.” Lalu dia berkata, “Wahai saudaraku, yang dimaksudkan ayat tersebut bukanlah orang yang melakukan thaharah dengan air yang kotor, akan tetapi mereka thaharah dengan rasa takutnya terhadap dosa.” Maka aku renungkan apa yang dia katakan, lalu aku dapatkan dialah  yang benar sedangkan aku yang salah. Kemudian aku berkata, “Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan dan menambahkan ilmu dan pemahaman kepada Anda.”

Abu Al-Aliyah biasa menganjurkan manusia untuk antusias dalam mencari ilmu, dan menunjukkan mereka jalan untuk bisa meraihnya. Beliau berkata, “Sibukkanlah diri kalian untuk menimba ilmu dan perbanyaklah bertanya tentangnya. Ketahuilah bahwa ilmu tidak akan hinggap bagi orang yang malu (dalam hal ilmu) dan orang yang sombong. Orang  yang malu dia tidak akan bertanya karena malu, orang yang sombong tidak akan bertanya karena kecongkakannya.”

Beliau juga menganjurkan murid-muridnya untuk mempelajari Al-Qur’an dan berpegang teguh terhadap apa yang terkandung di dalamnya serta berpaling dari segala perkara bid’ah yang diada-adakan. Beliau berkata, “Pelajarilah Al-Qur’an, jika kalian mempelajarinya maka janganlah kalian menyimpang darinya, tempuhlah jalan yang lurus, itulah Islam. Jauhilah oleh kalian hawa nafsu dan bid’ah, karena ia akan membangkitkan permusuhan dan kebencian di antara kalian. Janganlah kalian menyelisihi perkara yang telah diambil oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum mereka berpecah.”

Perkataan tersebut disampaikan kepada Hasan Al-Bashri lalu beliau berkomentar, “Demi Allah Abu Al-Aliyah telah menasihati kalian dengan benar.”

Di samping itu beliau juga membimbing para santrinya cara untuk menghafalkan Al-Qur’an, beliau berkata, “Pelajarilah ayat Al-Qur’an lima ayat-lima ayat, karena hal itu lebih mudah untuk kalian ingat dan lebih mungkin untuk kalian pahami. Karena Jibril menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lima ayat-lima ayat.”

Abu Al-Aliyah bukan hanya sekedar pengajar saja namun juga mendidik. Karena beliau mengisi otak murid-muridnya dengan ilmu yang bermanfaat, memelihara hati mereka dengan nasihat yang baik, sering mengumpulkan antara dua perkara pada nasihat-nasihatnya. Di antara nasihat beliau kepada mereka:

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk diri-Nya, bahwa barangsiapa yang beriman kepada-Nya niscaya Allah akan memberi hidayah kepadanya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

‘Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya,’ (At-Taghabun: 11).

Dan Allah menetapkan bahwa barangsiapa bertawakal kepada-Nya niscaya Allah akan mencukupinya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

‘Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya),’ (Ath-Thalaq: 3).

Dan Allah menetapkan barangsiapa yang memberi pinjaman kepada Allah niscaya Allah akan menggantinya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Siapkah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda  yang banyak,” (Al-Baqarah: 245).

Dan barangsiapa yang berdo’a kepada-Nya Allah akan mengabulkannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawabnya bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan  orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku,” (Al-Baqarah: 186).

Beliau juga pernah menasihati murid-muridnya:

“Beramallah dengan ketaatan, dan terimalah orang-orang yang taat karena ketaatan mereka kepada Allah. Jauhilah maksiat dan musuhilah pelaku maksiat karena kemaksiatan yang dilakukannya. Kemudian serahkanlah urusan orang yang bermaksiat itu kepada Allah, jika Allah menghendaki maka dia diadzab dan jika Dia menghendaki maka akan diampuni. Jika kalian mendengar ada seseorang yang luhur jiwanya maka katakanlah, “Sesungguhnya aku mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, aku mengutamakan begini karena mencari ridha Allah dan berpaling dari begini karena takut kepada Allah”, maka janganlah kalian melampaui batas.”

Abu Al-Aliyah bukan sekedar ulama amilun saja, bukan pula sebatas pemberi nasihat dan pembimbing, namun juga seorang mujahid fie sabilillah. Beliau meluangkan waktunya untuk terjun di medan-medan jihad bersama para mujahidin, atau ribath berjaga-jaga akan datangnya musuh di perbatasan bersama para murabithin. Beliau lebih suka berjihad ke negeri Timur dan Barat sebagaimana beliau turut berjihad melawan Romawi di Syam dan juga Persi, negeri di seberang sungai Jihun. Beliau adalah orang yang pertama kali adzan di negeri-negeri tersebut.

Ketika terjadi peperangan antara Ali dan Mu’wiyah, beliau memiliki sikap, beliau bercerita:

“Ketika terjadi peperangan antara Ali dan Mu’awiyah, saya termasuk orang  yang bersemangat. Perang ketika itu lebih aku sukai daripada air dingin di musim kering. Maka saya mempersiapkan perlengkapan kemudian mendatangi mereka. Ternyata di hadapan saya telah berdiri dua barisan pasukan berhadapan yang tak kelihatan ujungnya. Jika satu barisan meneriakkan takbir maka barisan lainpun meneriakkan takbir. Jika yang satu meneriakkan la ilaha illallah, kelompok yang lain pun meneriakkan la ilaha illallah. Lalu saya bertanya-tanya kepadaku diriku sendiri, “Manakah di antara dua kelompok pasukan yang saya anggap kafir dan akan saya perangi? Manakah yang saya anggap mukmin sehingga saya akan berjihad bersamanya? Lalu aku tinggalkan keduanya dan pergi.”

Abu Al-Aliyah sepanjang hidupnya masih merasakan kecewa, karena tidak bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  Maka beliau menggantinya dengan mendekati para sahabat yang utama, yang dekat hubungannya dengan Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau lebih mengutamakan mereka atas dirinya sedangkan mereka lebih mengutamakan beliau atas diri mereka.

Sebagai bukti adalah tatkala Anas –pembantu Rasulullah- memberikan hadiah apel yang di tangannya kepada beliau. Maka belia pun mengambilnya lalu menciumnya sambil berkata, “Apel  yang telah disentuh oleh tangan yang pernah menyentuh tangan Rasulullah, apel yang telah disentuh oleh tangan  yang mendapat kehormatan karena pernah menyentuh tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Contoh yang lain, tatkala Abu Al-Aliyah menemui Abdullah bin Abbas yang saat itu menjadi gubernur Bashrah di bawah pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Abdullah bin Abbas menyambutnya dengan sangat baik, beliau dudukkan di atas ranjangnya dan didudukkan di samping kanannya. Ketika itu majelis dihadiri oleh para pembesar Quraisy. Mereka saling melirik dan berbisik di antara mereka, “Tidakkah kalian melihat bagaimana Ibnu Abbas mendudukkan budak itu di atas ranjangnya?” Ibnu Abbas yang melihat gelagat mereka menoleh ke arah mereka dan berkata, “Sesungguhnya ilmu menambah kemuliaan orang yang mulia, dan meninggikan derajat pemiliknya di tengah manusia dan mendudukkan para raja laksana tawanan.”

Suatu tahun, Abu Al-Aliyah bertekad untuk pergi berjihad fii sabilillah. Maka beliau mempersiapkan perbekalannya dan mengikatnya di atas kendaraannya bersama para mujahidin. Tatkala terbit waktu Shubuh, terdapat luka yang parah pada salah satu telapak kakinya. Kemudian rasa sakit itu semakin bertambah sesaat demi sesaat. Ketika seorang tabib menengoknya, dia berkata, “Ini terkena “aklah.” Beliau bertanya, “Apakah itu aklah?” tabib berkata, “Yakni penyakit yang akan mematikan sel-sel dan merambat sedikit demi sedikit hingga mengenai seluruh tubuh.” Kemudian tabib tersebut meminta persetujuannya untuk memotong kakinya hingga setengah betis, maka beliaupun menyetujuinya.

Maka sang tabib menyiapkan perlengkapan amputasi, pisau untuk menyayat daging dan gergaji untuk memotong tulang. Kemudian tabib berkata, “Maukah Anda minum bius agar Anda tidak merasakan kesakitan tatkala disayat dan dipotong kakinya?” beliau menjawab, “Namun ada yang lebih baik untukku daripada itu.” Tabib berkata, “Apa itu?” beliau berkata, “Carilah untukku seorang qari’ yang membacakan Kitabullah, mintalah dia membacakan untukku ayat-ayat yang mudah dan jelas. Jika kalian melihat wajahku telah memerah, pandanganku mengarah ke langit, maka berbuatlah sesukamu.” Maka merekapun melaksanakan permintaan tersebut dan memotong kakinya.

Tatkala selesai amputasi, tabib berkata kepada Abu Al-Aliyah, “Sesungguhnya Anda tidak merasakan sakit tatkala diamputasi.” Lalu beliau menjawab, “Karena saya tersibukkan oleh sejuknya kecintaan kepada Allah, merasakan kelezatan apa yang aku dengar dari Kitabullah sehingga melupakan panasnya gergaji.” Kemudian beliau pegang kaki beliau dengan tangannya dan beliau melihat kepadanya seraya berkata, “Jika aku bertemu dengan Rabb-ku pada hari kiamat nanti dan bertanya apakah aku  telah berjalan dengan engkau (kaki  yang telah dipotong) ke tempat yang haram sejak 40 tahun, atau aku telah berjalan denganmu pada tempat  yang tidak diperbolehkan? Nisacaya aku akan menjawab, “Belum pernah” dan aku jujur terhadap kata-kataku, Insya Allah.

Setelah itu, karena ketakwaan Abu Al-Aliyah dan karena merasa dekatnya dengan hari kiamat serta persiapannya bertemu dengan Rabb-nya, beliau telah menyiapkan kain kafan untuk dirinya. Beliau memakai kain kafan itu sebulan sekali kemudian beliau kembalikan ke tempatnya. Beliau telah berwasiat 17 belas kali padahal beliau masih dalam keadaan sehat dan segar. Beliau memberikan batasan pada setiap-setiap wasiat. Jika batasan waktu telah habis beliau melihatnya lagi, mungkin beliau menggantinya atau mengundurkannya.

Pada bulan Syawal tahun 93 H Abu Al-Aliyah berangkat menjumpai Rabb-nya dengan membawa jiwanya yang suci, yakin dengan rahmat Allah dan kerinduan untuk bertemu dengan Nabinya.

Sumber: Buku “Mereka Adalah Para Tabi’in”, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Pustaka At-Tibyan
              http://kisahislam.net
 

VISITOR

Free counters!
Waktu sholat untuk daerah Malang, Jawa Timur. Widget Jadwal Sholat oleh Alhabib.